Senin, 25 Desember 2023

PAMIT

Senyaman-nyamannya Yogya, Lampung tetap tempat kembali pulang.

Setelah selesai menyelesaikan studi dari salah satu Universitas Negeri di Yogya, tak lama saya langsung merencanakan pulang ke tanah kelahiran. Tepatnya 16 hari setelah acara wisuda kampus dilaksanakan. Kalok ditanya gimana perasaanya meninggalkan Yogya?

Berat tentunya, karena jujur saya akui Yogya istimewa dari banyak hal. Bakal kangen banget dengan Tj(1) wkwkwk.

Sebelum pulang perpisahan dulu dengan Yogya, ziarah, keliling naik Tj, menikmati malam di Malioboro, ngopi, keluar bareng temen-temen, kulineran, dan 1 hari sebelum pulang nyempetin dulu soan ke Eyang(2). Pas banget aku kerumah Eyang, beliau lagi besantai sambil nonton tv. Beliau sangat antusias ketika saya datang (biasalah bu kos dan anak kos yang uda akrab). Setelah ngobrol saya menyampaikan maksud hati bersilaturahmi yaitu untuk berpamitan kalau saya mau balik ke Lampung. Beliau memberikan doa dan menitipkan salam untuk kedua orang tua saya.

Eyang: Mbak Wulan kapan-kapan kalok ke Yogya jangan lupa mampir tempat Eyang ya..

(Eyang memanggil dengan sebutan “Mbak” tidak hanya ke aku aja sih, ke teman-teman kos yang lain juga begitu beliau).

Aku: Nggeh Eyang, insyaAllah kalok ada kesempatan ke Yogya lagi mampir jenguk Eyang.

Seketika suasana menjadi hening karena ternyata Eyang berlinang air mata.

Eyang: (sambil mengusap) Tapi nanti kalau Mbak Wulan ke Yogya mungkin Eyang uda gak ada.

Akupun spontan menumpahkan air mata.

Aku: Mugi eyang sehat selalu, diberi umur panjang. Sing penting jaga kesehatannya Eyang, pola makannya juga (sejujurnya saya susah untuk berkata-kata).

Eyang: Nggeh Mbak Wulan, Mbak Wulan juga sehat-sehat.

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berpamitan. Tidak lupa saya tutup pamit hari ini dengan foto selfie buat kenang-kenangan.

Eyang: Sebentar, saya tak pakai jilbab dulu biar cantik fotonya

Aku: Siappppp😄

 

Hingga sekarang, masih suka sedih kalok inget kata-kata itu. Semua makhluk pasti akan kembali kepada-Nya. Mungkin ini hikmah dari pamit Eyang yaitu untuk mengingatkanku dan tentunya kita semua “sudah berapa banyak bekel yang disiapkan”!

Semoga Eyang diberikan umur panjang yang barokah, amin.

____________________________________________________________________________________________________________________________________

(1) Trans Jogja,  salah satu kendaraan umum yang sangat popular di Yogya

(2) Ibu kos di kosan lama

Dari awal ke Yogya kos di tempat eyang selama 1 tahun. Karena tempat eyang kosnya tahunan dan aku tinggal beberapa bulan lagi wisuda, jadi aku pindah kos yang bulanan.

Sabtu, 13 Agustus 2022

SANTRI IBARAT “PENA TUTUL”

 


(Ditulis: Kamis, 11 November 2015)


Tradisi menulis dalam dunia pesantren tentunya sudah tidak asing lagi, dimulai dari kebiasaan-kebiasaan santri seperti mencatat keterangn saat mengaji, ketika diskusi, atau memang menulis kitab yang akan dikajinya untuk di maknai(1). Dalam proses belajar seorang santri tidak dapat terlepas dengan yang namanya pena. Sampai ada pena yang dapat dikatakan menjadi ciri khas pondok pesantren zaman dulu yang biasa disebut dengan pena tutul atau pena tradisional. Pena tradisional ini adalah pena yang terbuat dari alumunium, berujung runcing dengan tinta terpisah. Tinta yang berbentuk batang dicairkan terlebih dahulu sebelum digunakan dengan cara digosok. Cara penggunaannya dengan menutulkan ujung pena keguci tinta sehingga disebut sebagai “Pena Tutul”. Namun dimasa sekarang memaknai atau menulis dengan pena tradisional ini sudah tergolong langka, karena tergantikan dengan pena makna yang lebih instan yakni Hi-tech.

Santri yang menuntut ilmu itu diibaratkan seperti pena tutul, untuk mendapatkan tulisan yang bagus kadar kekentalan tinta itu sangatlah penting. Menulis dengan pena tradisional ini juga dibutuhkan ketlatenan karena harus menutulkan ujung pena ke tinta berulang kali. Namun tidak diragukan lagi selain hasil tulisan yang bercirikhas, salah satu keunikan menggunakan pena tutul ini yaitu tulisan yang tidak muda pudar walau termakan usia. Seperti halnya santri, kadar kekentalan niat menjadi pondasi awal dalam membangun semangat. Salah satu cara untuk menutulkan hasil selama proses belajaran yakni dengan muroja’ah(2)

Bagi para santri kata muraja’ah tidaklah asing lagi, dimana santri memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengulang-ulang hafalan maupun materi yang telah didapatkan selama pembelajaran. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mengulang atau pengulangan merupakan salah satu prinsip dalam belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Thorndike dengan teorinya yang terkenal pula yaitu “law of exercise” bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar timbulnya respon benar.

Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda seperti halnya dalam menghafal serta pemahaman. Oleh sebab itu santri akan memiliki gaya belajar dan memenejemen muraja’ah menyesuaikan dengan kemampuan masing. Begitu juga ketika menulis menggunakan pena tutul, kemampuan mengaplikan tinta dengan tekanan yang berbeda-beda maka akan menghasilkan gaya tulisan yang berbeda pula. Semakin sering menutulkan ujung pena ketinta maka semakin semakin cepat menulis, semakin ahli, dengan hasil tulisan yang cirikhas. Semakin giat muraja’ah semakin nglotok penguasaannya (begitu bahasa santrinya).

Dalam menggunakan pena tutul bisa dikatakan harus memiliki sedikit kemampuan yang berbeda. Karena selain ujung penanya yang sangat runcing,  kita juga harus mengetahui trik dalam penggunaannya. Dengan sedikit mencondongkan pena dalam setiap goresan dan tidak terlalu menekan agar kertas tidak rusak. Santri juga harus seperti itu, harus dapat mengenal serta memahami kemampuan diri sehingga memiliki trik jitu dalam belajar. Ada yang memiliki waktu muroja’ah tengah malam karena diwaktu tersebut sunyi, ada yang ba’da subuh, ada juga yang tidak dapat muroja’ah terlalu lama karena memiliki kecenderungan cepat bosan sehingga cukup beberapa menit saja namum bisa 3 kali titik murojaah dengan waktu yang berbeda-beda, dll.

Intinya niat, temen(3), lan do’a. Begitulah gambaran santri yang saya ibaratkan sebagai pena tutul, jadi kalian versi santri pena apa nih???


Rabu, 30 Maret 2022

Ning Khodijah Kafabihi: Pentingnya Al-Qur’an Bagi Perempuan

 


Malam selanjutnya setelah acara peringatan Haul Abah KH. Muhammad Sobari Ke-4, beliau Ning Khadijah Kafabihi atau yang lebih akrab disapa dengan Ning Dijah memberikan mauidhotul hasanah untuk motivasi mbak-mbak santri Al-Hikmah khususnya yang menghafal Al-Qur’an. Acara yang singkat namun bermakna ini berlangsung di aula Ashofa gedung B Pondok Pesantren Al-Hikmah, Kedaton, Bandar Lampung, Pukul 20.00 WIB, Minggu (27/03/2022).

Ngendikane beliau mengutip dari mbah Maimun Zubair bahwa anak perempuan kalau bisa punya pegangan hafalan Al-Qur’an, karena kalau tidak jika dirumah nganggur pinginnya mainan hp dan mengosip. Bagusnya menghafal Al-Qur’an itu jika mampu, yaitu mampu membaca dengan makhroj yang bagus dan tajwidnya benar.

Menghafal itu tidak wajib yang wajib adalah membaca Al-Qur’an dengan benar dan memenuhi hak-hak bacaannya. Karena sampai sepuh pun tetap wajib membaca Al-Qur’an dengan benar. “Memang susah menghafal Al-Qur’an namun sudah dijanjikan oleh Allah balasannya tidak hanya didunia tetapi sampai di akhirat, dan jangan pernah mengharap balasan di dunia”. Ucap Ning Dijah.

Di pondok ini merupakan kesempatan. Santri sangat beruntung karena memiliki guru yang sanadnya sudah terjamin. Jika di pondok kita harus memiliki hati yang senang, karena orang yang menuntut ilmu itu didoakan oleh semua hewan di dunia ini. Hati senang, itu jadi kerasannya di pondok. Memang belajar di pondok harus lama, bertahun-tahun, jauh dari rumah, karena kalau dirumah saja godaannya lebih berat terutama hp.

Memang susah menghafal Al-Qur’an maka perlu tau waktu-waktu yang mudan untuk menghafal seperti 1\3 malam, setelah solat tahajud bisa digunakan untuk hafalan. Jika merasa susah jangan ditinggal tapi harus lebih sering dideres. “karena jika sudah terlanjur nyemplung di Al-Qur’an tanggung jawabnya itu sampai mati”. Ucap beliau.

Jika merasa belum mampu untuk menghafal diseringkan binadzhor, ditargetkan berapa bulan khatam baca Al-Qur’an nya.

Mbah Arwani guru Al-Qur’an nomer 1 di Indonesia ayahnya itu mbah Amin Said, mbah Amin ini bukan seorang yang hafal Al-Qur’an beliau itu penjual kitab tapi selalu menghatamkan Al-Qur’an berapa hari sekali. “Itulah mengapa pentingnya deres Al-Qur’an, jika bukan kita yang ngapal semoga nanti anak cucu kita”. Papar Ning Dijah.

Tahun 2009 Ning Dijah tabarukan di Mesir dengan para Syeikh, beliau dipeseni sama syeikh yang mengajarnya bahwa 1 hari itu harus hatam 2 juz dengan cara tartil. “Dan Alhamdulillah sampai sekarang saya masih istiqomah, jika hari ini saya tidak hatam 2 juz maka menjadi hutang di hari berikutnya agar kirta semangat le nderes” ucap beliau.

Makin banyak deres, makin banyak barokah.

Beliau bercerita ada orang 1 satu hari deres 1 juz, keosokannya merasa luang nambah menjadi 2 juz dan seterusnya sampai beliau bisa deres 1 hari 10 juz. “Namanya berkah memang tidak bisa dinalar, berkah juga bisa lumeber ke orang tua kita rezekinya jadi lancar itu dawuh mbah saya” ucap Ning Dijah.

Pesen dari mb Kholil Bangkalan, perempuan harus memiliki hati yang ikhlas, baik, karena puncak baik anak itu nurun dari ibunya. Contohnya seperti mbah Maidah Sarang punya santri, tiap malam beliau membersihkan selokan, menyalakan air agar santrinya enak untuk solat, maka beliau memiliki keturunan yang solih solihah itu buah dari keikhlasan.

Dengan menghafal Al-Qur’an kita bisa lebih melatih diri untuk sabar, ikhlas, “Rekosone wong le ngapal Al-Qur’an insyaAllah mulyo urip dunia akhirate” ucap Ning Dijah.

Selasa, 27 Juli 2021

RINDU DARI SANG SANTRI BARU

Lihat juga: Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah

Tahun ajaran baru sudah dimulai, para santripun mulai berdatangan. Keadaan yang semula sepi kini mulai ramai oleh sapaan para santri termasuk santri baru. Saling berkenalan dan berlomba-lomba mendapatkan teman terbaik. Senyum yang merekah diwajah para santri baru entah itu menjadi awal yang baik atau hanya topeng sesaat. 

(Satu hari sebelumnya)

Di tepi lapangan Pondok Pesantren Al-Hikmah berparkir mobil sedan yang ditumpangi pasangan suami istri dan seorang anak lelakinya. Beralaskan swallow berwarna biru, mengendong ransel, dan masih ada beberapa gardus disamping anak tersebut. Wajahnya sangat polos tapi terlihat jelas kobaran semangat dimatanya. Ternyata bocah itu adalah salah satu santri baru yang dihantarkan oleh orang tuanya.

“Le ibuk bapak mong bisa nganter sampek sini ya!”

“Ya buk ndak papa” (Jawab si bocah ini dengan penuh semangat)

“Kamu belajar yang sungguh-sungguh, ibu bapak selalu mendoakanmu dari rumah, jaga kesehatan ya” (Pesan sang bapak)

“Ia pak buk Ahmad selalu ingat, kan Ahmad sendiri yang minta mondok pasti Ahmad betah”

“Kita lihat saja nanti” (Batin salah satu anggota Jam’iah yang berdiri tidak jauh dari mobil tersebut)

Dibantu oleh anggota Jam’iah(1) Ahmad membawa barang-barangnya masuk ke Pondok Pesantren.

Disinilah awal baru dimuli. Dengan tekat yangt kuat Bismillahirrohmanirrohim, Ahmad tidak ragu-ragu melangkahkan kakinya. Semakin kaki ini melangkah kedua orang tua Ahmad semakin tersamarkan dari pandangan. Hatinya mulai bergetar, dan entah dari kapan air matanya mengalir. 

“Bismillah mondok” (Dalam hati Ahmad)


Hari pertama, kedua, ketiga, Ahmad berhasil mengkondisikan dirinya, ia mulai beradabtasi dan berteman baik dengan santri-santri yang lain. Namun semakin hari ia merasakan hal yang aneh, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Rindu!! Ya……Rindu orang tua, rindu teman-teman dirumah, rindu suasana rumah, dan masih banyak yang berkecampung difikirannya. Tidak hanya Ahmad, santri baru lainpun merasakannya. Banyak tipe-tipe santri baru di pondok pesantren, ada yang diam-diam menangis, ada yang berusaha menenangkan temannya namun ujung-ujungnya menangis juga, ada yang kuat, ada juga yang sok kuat namun tetap menangis juga. Ahmd berusaha menjadi santri yang kuat, namun sesekali ia tak bisa mengalahkan fikiran dan hatinya. Air matanya tumpah hingga terdengar suaranya tersedu-sedu.

“Loh Ahmad menangis?” (Tegur sang PJ(2) kamar)

Mendengar hal tersebut ahmad tak sanggub berkata-kata, sesak didadanya membuat mulutnya terkunci.

“Ndak papa nangis itu wajar namanya juga masih baru, tapi kalok nangisnya terus-terusan itu baru gak wajar” (Sang PJ pun tersenyum)

Bagi pengurus hal ini sudah biasa terjadi setiap ada santri baru. 

“Ahmad rindu ibuk bapak ya? Kalau rindu jangan menangis, doakan ibu bapak di rumah supaya sehat, lancar rizqinya bia ahmad bisa kiriman terus” 

Namun kata-kata tersebut tidak berhasil meluluhkan hati Ahmad. 

“Coba bayangkan wajah orang tua Ahmad, pasti Ahmad pingin ibu bapak banggakan? (Tutur sang PJ kamar)

“He em”

Perlahan suara itu keluar dari mulut ahmad meski terdengar berat.

“Nah kalok gitu Ahmad disini belajar yang sungguh-sungguh biar jadi anak yang solih bagi ibu bapak”

ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR………. (Adzan berkumandang)

“Sudah adzan ayo siap-siap solat ashar”

Ahmad pun bergegas mengambil air wudhu.


Minggu sudah berulang kali berganti, namun hati Ahmad semakin berat. Rindu terhadap kedua orang tuanya semakin menggunung. Ia lupa bahwa keinginannya mondok dari dirinya bukan paksaan kedua orang tuanya. Sampai tiba hari diperbolehkan menelpon. Ahmad pun tak melewatkan kesempatan tersebut untuk sekedar mendengar suara ibu bapaknya.

Ibu        : Assalamu’alaikum

               (Lidah Ahmad tidak kuasa untuk menjawab salam dari ibunya)

Ahmad  : Wa wa’alaikumsalam”

Ibu        : Ahmad gimana kabarnya sehatkan? Ibuk bapak selalu doain Ahmad loh dari rumah

               (Kata sang ibu)

Dibalik telepon ahmad tersedu-sedu “Ahmad RINDU bu”

Ibu        : Ibu bapak juga sangat rindu mad, ibu bapak bangga kamu mondok. Tapi itu belum apa-apa                   dibanding ketika kamu berhasil besok. Ditata lagi niatnya yang legowo pasti semua terasa                       ringan.

Tersentak ahmad serasa dicubit hatinya oleh perkataan sang ibu. Dukungan, doa ibu bapak dan keluarganya lah yang membuat hatinya tenang dan semangatnya bangkit kembali.

Ahmad    : Yasudah buk, Ahmad tutup teleponnya ya

                 salam buat bapak jangan lupa doain Ahmad disini.

Ibu          : Ia le, semangat belajarnya Assalamualaikum.

Ahmad    : Walaikumsalam.


Setelah hari itu terlewati bukan berarti ahmad sudah benar-benar menjadi santri yang kuat. Rasa rindu dihatinya semakin hari semakin menumpuk. Namun kini tekat dan semangatnya untuk belajar mampu menahan. Ya menahan rindu!

Duh berat juga rasa rindu ini ya Allah.

THE AND



NB: Mari kita doakan para santri baru terutama di Pondok Pesantren Al-Hikmah bisa betah dan kerasan mondok. Semoga istiqomah dan mendapat ilmu yang bermanfaat dan barokah. Amin allahumma amin. 

Vidio kedatangan santri Pondok Pesantren Al-Hikmah

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(1) Organisasi pondok seperti OSIS jika di sekolahan

(2) Seorang  pengurus yang bertanggung jawab pada satu kamar santri.


Selasa, 15 September 2020

"KISAH SANG SANTRI"


Aku sudah terlalu banyak menyaksikan 

Harapan  yang begitu besar

Air mata yang tertumpahkan

Dan rindu yang terabaikan


Namun.....

Waktu mampu membendung rindu

Jarak mampu membendung air mata

Dan doa mampu membendung segalanya


Saat aku lelah dan terjatuh

Aku berusaha lari dan mengejar waktu

Waktu yang tak pernah terhenti

Meski sedetik dihela nafasku


Aku adalah santri

Yang mengabdi untuk Negeri

Yang terus berjuang tuk masa depan bangsa ini

By: Wulan safitri

PP AL-Hikmah Bandar Lampung