Lihat juga: Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah
Tahun ajaran baru sudah dimulai, para santripun mulai berdatangan. Keadaan yang semula sepi kini mulai ramai oleh sapaan para santri termasuk santri baru. Saling berkenalan dan berlomba-lomba mendapatkan teman terbaik. Senyum yang merekah diwajah para santri baru entah itu menjadi awal yang baik atau hanya topeng sesaat.
(Satu hari sebelumnya)
Di tepi lapangan Pondok Pesantren Al-Hikmah berparkir mobil sedan yang ditumpangi pasangan suami istri dan seorang anak lelakinya. Beralaskan swallow berwarna biru, mengendong ransel, dan masih ada beberapa gardus disamping anak tersebut. Wajahnya sangat polos tapi terlihat jelas kobaran semangat dimatanya. Ternyata bocah itu adalah salah satu santri baru yang dihantarkan oleh orang tuanya.
“Le ibuk bapak mong bisa nganter sampek sini ya!”
“Ya buk ndak papa” (Jawab si bocah ini dengan penuh semangat)
“Kamu belajar yang sungguh-sungguh, ibu bapak selalu mendoakanmu dari rumah, jaga kesehatan ya” (Pesan sang bapak)
“Ia pak buk Ahmad selalu ingat, kan Ahmad sendiri yang minta mondok pasti Ahmad betah”
“Kita lihat saja nanti” (Batin salah satu anggota Jam’iah yang berdiri tidak jauh dari mobil tersebut)
Dibantu oleh anggota Jam’iah(1) Ahmad membawa barang-barangnya masuk ke Pondok Pesantren.
Disinilah awal baru dimuli. Dengan tekat yangt kuat Bismillahirrohmanirrohim, Ahmad tidak ragu-ragu melangkahkan kakinya. Semakin kaki ini melangkah kedua orang tua Ahmad semakin tersamarkan dari pandangan. Hatinya mulai bergetar, dan entah dari kapan air matanya mengalir.
“Bismillah mondok” (Dalam hati Ahmad)
Hari pertama, kedua, ketiga, Ahmad berhasil mengkondisikan dirinya, ia mulai beradabtasi dan berteman baik dengan santri-santri yang lain. Namun semakin hari ia merasakan hal yang aneh, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Rindu!! Ya……Rindu orang tua, rindu teman-teman dirumah, rindu suasana rumah, dan masih banyak yang berkecampung difikirannya. Tidak hanya Ahmad, santri baru lainpun merasakannya. Banyak tipe-tipe santri baru di pondok pesantren, ada yang diam-diam menangis, ada yang berusaha menenangkan temannya namun ujung-ujungnya menangis juga, ada yang kuat, ada juga yang sok kuat namun tetap menangis juga. Ahmd berusaha menjadi santri yang kuat, namun sesekali ia tak bisa mengalahkan fikiran dan hatinya. Air matanya tumpah hingga terdengar suaranya tersedu-sedu.
“Loh Ahmad menangis?” (Tegur sang PJ(2) kamar)
Mendengar hal tersebut ahmad tak sanggub berkata-kata, sesak didadanya membuat mulutnya terkunci.
“Ndak papa nangis itu wajar namanya juga masih baru, tapi kalok nangisnya terus-terusan itu baru gak wajar” (Sang PJ pun tersenyum)
Bagi pengurus hal ini sudah biasa terjadi setiap ada santri baru.
“Ahmad rindu ibuk bapak ya? Kalau rindu jangan menangis, doakan ibu bapak di rumah supaya sehat, lancar rizqinya bia ahmad bisa kiriman terus”
Namun kata-kata tersebut tidak berhasil meluluhkan hati Ahmad.
“Coba bayangkan wajah orang tua Ahmad, pasti Ahmad pingin ibu bapak banggakan? (Tutur sang PJ kamar)
“He em”
Perlahan suara itu keluar dari mulut ahmad meski terdengar berat.
“Nah kalok gitu Ahmad disini belajar yang sungguh-sungguh biar jadi anak yang solih bagi ibu bapak”
ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR………. (Adzan berkumandang)
“Sudah adzan ayo siap-siap solat ashar”
Ahmad pun bergegas mengambil air wudhu.
Minggu sudah berulang kali berganti, namun hati Ahmad semakin berat. Rindu terhadap kedua orang tuanya semakin menggunung. Ia lupa bahwa keinginannya mondok dari dirinya bukan paksaan kedua orang tuanya. Sampai tiba hari diperbolehkan menelpon. Ahmad pun tak melewatkan kesempatan tersebut untuk sekedar mendengar suara ibu bapaknya.
Ibu : Assalamu’alaikum
(Lidah Ahmad tidak kuasa untuk menjawab salam dari ibunya)
Ahmad : Wa wa’alaikumsalam”
Ibu : Ahmad gimana kabarnya sehatkan? Ibuk bapak selalu doain Ahmad loh dari rumah
(Kata sang ibu)
Dibalik telepon ahmad tersedu-sedu “Ahmad RINDU bu”
Ibu : Ibu bapak juga sangat rindu mad, ibu bapak bangga kamu mondok. Tapi itu belum apa-apa dibanding ketika kamu berhasil besok. Ditata lagi niatnya yang legowo pasti semua terasa ringan.
Tersentak ahmad serasa dicubit hatinya oleh perkataan sang ibu. Dukungan, doa ibu bapak dan keluarganya lah yang membuat hatinya tenang dan semangatnya bangkit kembali.
Ahmad : Yasudah buk, Ahmad tutup teleponnya ya
salam buat bapak jangan lupa doain Ahmad disini.
Ibu : Ia le, semangat belajarnya Assalamualaikum.
Ahmad : Walaikumsalam.
Setelah hari itu terlewati bukan berarti ahmad sudah benar-benar menjadi santri yang kuat. Rasa rindu dihatinya semakin hari semakin menumpuk. Namun kini tekat dan semangatnya untuk belajar mampu menahan. Ya menahan rindu!
Duh berat juga rasa rindu ini ya Allah.
THE AND
NB: Mari kita doakan para santri baru terutama di Pondok Pesantren Al-Hikmah bisa betah dan kerasan mondok. Semoga istiqomah dan mendapat ilmu yang bermanfaat dan barokah. Amin allahumma amin.
Vidio kedatangan santri Pondok Pesantren Al-Hikmah
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(1) Organisasi pondok seperti OSIS jika di sekolahan
(2) Seorang pengurus yang bertanggung jawab pada satu kamar santri.